PERNIKAHAN BEDA AGAMA
Cinta memang buta, akan tetapi benarkah butanya cinta mampu mengalahkan segalanya, termasuk menghilangkan sekat agama?
Banyak contoh pasangan selebritis yang sukses dengan pernikahan mereka
meskipun keduanya berbeda keyakinan. Akan tetapi, beberapa dari mereka
secara jujur mengakui bahwa meskipun pernikahan bahagia, ada hal yang
kurang lengkap dalam kehidupan mereka, yaitu beribadah bersama. Bagaimana pandangan agama sendiri tentang pernikahan beda agama? Mari kita lihat satu persatu.
1. Agama Islam memandang pernikahan beda agama sebagai sesuatu yang terlarang dan tidak diperkenankan.
Secara tegas, kitab suci Al-Quran menerangkan pelarangan pernikahan
antara orang Islam dengan orang non muslim dalam banyak suratnya. Bagi
kalangan umat Islam, pernikahan beda agama pada hakekatnya adalah tidak
sah hingga pasangan yang melakukannya sama artinya tidak menikah. Ketika
mereka hidup bersama, maka dalam kacamata agamaIslam, perbuatan mereka
tergolong dalam zina dan berdosa. Dalam kacamata agama Islam, nikah beda
agama sangat terlarang.
2. Sedikit berbeda dengan agama Islam, agama Kristen Katholik
menganggap pernikahan antara dua pasangan berbeda agama sebagai
pernikahan yang sah akan tetapi tidak bisa diberkati dengan sakramen
pernikahan seperti pernikahan pasangan Katholik. Pernikahan beda
keyakinan dalam Katholik bisa dilakukan dengan penganut agama lain
(Islam, Protestan dan yang lainnya) dengan pemberkatan biasa. Penganut
agama Kristen Protestan juga memiliki pandangan yang kurang lebih sama.
Penganut Protestan diharapkan menikah juga dengan orang yang menganut
agama Kristen Protestan. Meskipun demikian, apabila terpaksa ada
pernikahan dua agama, maka akan diberlakukan aturan khusus yaitu dengan
pengggembalaan yang berbeda dengan pernikahan Protestan biasa.
Pernikahan tersebut juga tidak bisa diberkati oleh gereja. Pernikahan
dengan agama selain Protestan harus dilaksanakan di kapel dengan prosesi
penggembalaan khusus.
3. Bagaimana dengan aturan nikah beda agama dalam agama Hindu? Pada
garis besarnya, agama Hindu juga tidak memperbolehkan perkawinan beda
agama. Bahkan, dalam agama Hindu, sebuah perkawinan bisa dibatalkan
apabila dianggap ada syarat yang tidak sah. Salah satu syarat tidak
sahnya sebuah pernikahan adalah kedua mempelai tidak memeluk agama yang
sama. Intinya, kedua mempelai bisa menikah sah secara agama apabila
keduanya resmi memeluk agama Hindu. Tidak ada tawar menawar dalam
persyaratan ini.
4. Satu-satunya agama di Indonesia yang memperbolehkan kawin beda agama adalah agama Budha, tanpa perlakuan khusus.
Menurut keputusan Sangha Agung Indonesia, pernikahah berbeda keyakinan
seperti ini diperbolehkan sepanjang pengesahan pernikahan dilakukan
dengan tata cara agama Budha. Meskipun mempelai yang tidak memeluk Budha
tidak diwajibkan masuk Budha terlebih dahulu, upacara pernikahan tetap
menggunakan adat Budha, termasuk pengucapan nama-nama dewa umat Budha.
Perkawinan tersebut dapat dilaksanakan sepanjang calon mempelai yang
tidak memeluk Budha tidak berkeberatan dengan syarat tersebut. Secara
lisan, mempelai tersebut dianggap telah memeluk Budha ketika mengucapkan
“atas nama sang Budha” dalam prosesi pernikahan tersebut.
sumber:https://www.google.co.id/search?q=perkawinan+beda+agama&ie=utf-8&oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-GB:official&client=firefox-a&channel=fflb&gws_rd=cr&ei=zHGkU4qpHMOjugSX_oHgBQ
Jumat, 20 Juni 2014
Kamis, 19 Juni 2014
SUKU BADUY
1.1 Masyarakat Baduy
1.1 Masyarakat Baduy
Sebutan
"Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada
kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang
merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain
adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian
utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri
sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo(Garna, 1993).
Konon
pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh
tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah
Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya
Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad
ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh
saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini
adalah Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai
ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan
rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya
raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan
keraan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai,
mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan
pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug,
leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir, nyalindung dina
gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang
jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa
wangatua” Artinya : “jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug
),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik
gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak
saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan“
Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampong Cibeo (Baduy Dalam)
dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.
dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.
Versi
lain menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu
adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar
Prabu Pucuk Umun setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan
Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin
bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah
Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun
bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten
memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu
sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah
yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya
tempat ini disebut GOA/ Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan
Keturunan
ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ) dengan
Khas sama dengan di kampong Cikeusik yaitu : wataknya keras,acuh, sulit
untuk diajak bicara (hanya seperlunya), kuat terhadap hukum Adat, tidak
mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju
putih (blacu) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih
memakai sarung tenun biru tua (diatas lutut).
Ada
juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari
percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah
Sumedang, priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi
kebanyakanmereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat
sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu
daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama
Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada
juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog
kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan
Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah
kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada
kesamaan cirikhas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka
terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai
Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan
inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar )
desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak dengan cirri-cirinya ;
berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian
dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani,
mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat
karena merekan masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.
Suku
Baduy berasal dari daerah di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten
Lebak umumnya sewilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat
sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnyapun sangat
berbeda Sebutan bagi suku Baduy terdiri dari:
- Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu (Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
- Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di desa Kanekes yang masih terikatoleh Hukum adat dibawah pimpinan Puuun (kepala adat).
- Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat. 1.2 hasil kerajinan masyarakat Baduy 1.3 rumah masyarakat suku Baduy sumber: https://www.google.co.id/search?q=kebudayaan+suku+baduy&ie=utf-8&oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-GB:official&client=firefox-a&channel=fflb&gws_rd=cr&ei=a86jU-2LKdGTuASX_IGwDQ
Teater CIPOA
oleh: STMANIS ( Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara)
1.1 Gambar Pemeran Teater
Pementasan cipoa diselenggarakan oleh STMANIS (Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara) yang menceritakan tentang kemunafikan, kebohongan, keserakahan dan pengkhianatan yang membuat seseorang bisa terjatuh dan gelap mata dan juga membuat segala usaha mereka sia – sia dalam bekerja, tetapi mau bagaimana lagi kebohongan sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi hamper semua orang melakukannya dan ada juga yang malah membuat kebohongan itu untuk kepentingan pribadinya seperti yang sedang dilanda negeri ini, korupsi masih terjadi bahkan dari para kepala hingga ke akarnya lalu harus bagaimana kita menyikapi hal ini dari teater ini saya melihat bahwa apa yang dimulai dengan kebohongan dan hal yang bersifat negatif akan berakhir buruk juga dari emas yang seharga batu dan sebaliknya batu seharga emas kita membohongi orang lain tetapi pada akhirnya kita membohongi diri sendiri.
oleh: STMANIS ( Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara)
1.1 Gambar Pemeran Teater
Pementasan cipoa diselenggarakan oleh STMANIS (Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara) yang menceritakan tentang kemunafikan, kebohongan, keserakahan dan pengkhianatan yang membuat seseorang bisa terjatuh dan gelap mata dan juga membuat segala usaha mereka sia – sia dalam bekerja, tetapi mau bagaimana lagi kebohongan sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi hamper semua orang melakukannya dan ada juga yang malah membuat kebohongan itu untuk kepentingan pribadinya seperti yang sedang dilanda negeri ini, korupsi masih terjadi bahkan dari para kepala hingga ke akarnya lalu harus bagaimana kita menyikapi hal ini dari teater ini saya melihat bahwa apa yang dimulai dengan kebohongan dan hal yang bersifat negatif akan berakhir buruk juga dari emas yang seharga batu dan sebaliknya batu seharga emas kita membohongi orang lain tetapi pada akhirnya kita membohongi diri sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)