PERNIKAHAN BEDA AGAMA
Cinta memang buta, akan tetapi benarkah butanya cinta mampu mengalahkan segalanya, termasuk menghilangkan sekat agama?
Banyak contoh pasangan selebritis yang sukses dengan pernikahan mereka
meskipun keduanya berbeda keyakinan. Akan tetapi, beberapa dari mereka
secara jujur mengakui bahwa meskipun pernikahan bahagia, ada hal yang
kurang lengkap dalam kehidupan mereka, yaitu beribadah bersama. Bagaimana pandangan agama sendiri tentang pernikahan beda agama? Mari kita lihat satu persatu.
1. Agama Islam memandang pernikahan beda agama sebagai sesuatu yang terlarang dan tidak diperkenankan.
Secara tegas, kitab suci Al-Quran menerangkan pelarangan pernikahan
antara orang Islam dengan orang non muslim dalam banyak suratnya. Bagi
kalangan umat Islam, pernikahan beda agama pada hakekatnya adalah tidak
sah hingga pasangan yang melakukannya sama artinya tidak menikah. Ketika
mereka hidup bersama, maka dalam kacamata agamaIslam, perbuatan mereka
tergolong dalam zina dan berdosa. Dalam kacamata agama Islam, nikah beda
agama sangat terlarang.
2. Sedikit berbeda dengan agama Islam, agama Kristen Katholik
menganggap pernikahan antara dua pasangan berbeda agama sebagai
pernikahan yang sah akan tetapi tidak bisa diberkati dengan sakramen
pernikahan seperti pernikahan pasangan Katholik. Pernikahan beda
keyakinan dalam Katholik bisa dilakukan dengan penganut agama lain
(Islam, Protestan dan yang lainnya) dengan pemberkatan biasa. Penganut
agama Kristen Protestan juga memiliki pandangan yang kurang lebih sama.
Penganut Protestan diharapkan menikah juga dengan orang yang menganut
agama Kristen Protestan. Meskipun demikian, apabila terpaksa ada
pernikahan dua agama, maka akan diberlakukan aturan khusus yaitu dengan
pengggembalaan yang berbeda dengan pernikahan Protestan biasa.
Pernikahan tersebut juga tidak bisa diberkati oleh gereja. Pernikahan
dengan agama selain Protestan harus dilaksanakan di kapel dengan prosesi
penggembalaan khusus.
3. Bagaimana dengan aturan nikah beda agama dalam agama Hindu? Pada
garis besarnya, agama Hindu juga tidak memperbolehkan perkawinan beda
agama. Bahkan, dalam agama Hindu, sebuah perkawinan bisa dibatalkan
apabila dianggap ada syarat yang tidak sah. Salah satu syarat tidak
sahnya sebuah pernikahan adalah kedua mempelai tidak memeluk agama yang
sama. Intinya, kedua mempelai bisa menikah sah secara agama apabila
keduanya resmi memeluk agama Hindu. Tidak ada tawar menawar dalam
persyaratan ini.
4. Satu-satunya agama di Indonesia yang memperbolehkan kawin beda agama adalah agama Budha, tanpa perlakuan khusus.
Menurut keputusan Sangha Agung Indonesia, pernikahah berbeda keyakinan
seperti ini diperbolehkan sepanjang pengesahan pernikahan dilakukan
dengan tata cara agama Budha. Meskipun mempelai yang tidak memeluk Budha
tidak diwajibkan masuk Budha terlebih dahulu, upacara pernikahan tetap
menggunakan adat Budha, termasuk pengucapan nama-nama dewa umat Budha.
Perkawinan tersebut dapat dilaksanakan sepanjang calon mempelai yang
tidak memeluk Budha tidak berkeberatan dengan syarat tersebut. Secara
lisan, mempelai tersebut dianggap telah memeluk Budha ketika mengucapkan
“atas nama sang Budha” dalam prosesi pernikahan tersebut.
sumber:https://www.google.co.id/search?q=perkawinan+beda+agama&ie=utf-8&oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-GB:official&client=firefox-a&channel=fflb&gws_rd=cr&ei=zHGkU4qpHMOjugSX_oHgBQ
up to you
Jumat, 20 Juni 2014
Kamis, 19 Juni 2014
SUKU BADUY
1.1 Masyarakat Baduy
1.1 Masyarakat Baduy
Sebutan
"Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada
kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang
merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain
adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian
utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri
sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo(Garna, 1993).
Konon
pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh
tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah
Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya
Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad
ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh
saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini
adalah Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai
ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan
rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya
raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan
keraan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai,
mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan
pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug,
leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir, nyalindung dina
gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang
jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa
wangatua” Artinya : “jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug
),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik
gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak
saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan“
Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampong Cibeo (Baduy Dalam)
dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.
dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.
Versi
lain menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu
adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar
Prabu Pucuk Umun setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan
Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin
bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah
Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun
bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten
memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu
sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah
yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya
tempat ini disebut GOA/ Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan
Keturunan
ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ) dengan
Khas sama dengan di kampong Cikeusik yaitu : wataknya keras,acuh, sulit
untuk diajak bicara (hanya seperlunya), kuat terhadap hukum Adat, tidak
mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju
putih (blacu) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih
memakai sarung tenun biru tua (diatas lutut).
Ada
juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari
percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah
Sumedang, priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi
kebanyakanmereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat
sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu
daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama
Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada
juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog
kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan
Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah
kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada
kesamaan cirikhas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka
terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai
Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan
inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar )
desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak dengan cirri-cirinya ;
berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian
dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani,
mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat
karena merekan masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.
Suku
Baduy berasal dari daerah di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten
Lebak umumnya sewilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat
sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnyapun sangat
berbeda Sebutan bagi suku Baduy terdiri dari:
- Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu (Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
- Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di desa Kanekes yang masih terikatoleh Hukum adat dibawah pimpinan Puuun (kepala adat).
- Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat. 1.2 hasil kerajinan masyarakat Baduy 1.3 rumah masyarakat suku Baduy sumber: https://www.google.co.id/search?q=kebudayaan+suku+baduy&ie=utf-8&oe=utf-8&rls=org.mozilla:en-GB:official&client=firefox-a&channel=fflb&gws_rd=cr&ei=a86jU-2LKdGTuASX_IGwDQ
Teater CIPOA
oleh: STMANIS ( Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara)
1.1 Gambar Pemeran Teater
Pementasan cipoa diselenggarakan oleh STMANIS (Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara) yang menceritakan tentang kemunafikan, kebohongan, keserakahan dan pengkhianatan yang membuat seseorang bisa terjatuh dan gelap mata dan juga membuat segala usaha mereka sia – sia dalam bekerja, tetapi mau bagaimana lagi kebohongan sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi hamper semua orang melakukannya dan ada juga yang malah membuat kebohongan itu untuk kepentingan pribadinya seperti yang sedang dilanda negeri ini, korupsi masih terjadi bahkan dari para kepala hingga ke akarnya lalu harus bagaimana kita menyikapi hal ini dari teater ini saya melihat bahwa apa yang dimulai dengan kebohongan dan hal yang bersifat negatif akan berakhir buruk juga dari emas yang seharga batu dan sebaliknya batu seharga emas kita membohongi orang lain tetapi pada akhirnya kita membohongi diri sendiri.
oleh: STMANIS ( Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara)
1.1 Gambar Pemeran Teater
Pementasan cipoa diselenggarakan oleh STMANIS (Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara) yang menceritakan tentang kemunafikan, kebohongan, keserakahan dan pengkhianatan yang membuat seseorang bisa terjatuh dan gelap mata dan juga membuat segala usaha mereka sia – sia dalam bekerja, tetapi mau bagaimana lagi kebohongan sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi hamper semua orang melakukannya dan ada juga yang malah membuat kebohongan itu untuk kepentingan pribadinya seperti yang sedang dilanda negeri ini, korupsi masih terjadi bahkan dari para kepala hingga ke akarnya lalu harus bagaimana kita menyikapi hal ini dari teater ini saya melihat bahwa apa yang dimulai dengan kebohongan dan hal yang bersifat negatif akan berakhir buruk juga dari emas yang seharga batu dan sebaliknya batu seharga emas kita membohongi orang lain tetapi pada akhirnya kita membohongi diri sendiri.
Selasa, 29 April 2014
Hasil Wawancara
Pada hari ini kelompok kami bertugas untuk mewawancarai mahasiswa dan pedagang yang berada di lingkungan kampus Binus. Kami berhasil mewawancarai 3 orang (2 mahasiswa dan 1 orang mahasiswa)
2. Lapangan pekerjaan: Karena lapangan kerja di Kota lebih banyak dan juga gajinya lebih besar daripada di Desa.
3. Ekonomi: Ekonominya belum baik, karena masih banyak kesenjangan sosial. kalau masalah penyelesaiannya mungkin dengan cara lebih memperbanyak lapangan pekerjaan dan juga kemiskinan lebih banyak diberantas lagi.
4. Politik: Pemimpin yang lebih jujur dan tegas. Sosok yang ada dalam kriteria tersebut menurut saya Prabowo.

Menurut Rian,
1. Desa: Tergantung wilayahnya ya, tetapi rata - rata di Indonesia semua sarananya belum memadai.
2. Lapangan pekerjaan: Biaya dan gaji yang tinggi, serta lapangan pekerjaan di Desa masih kurang.
3. Ekonomi: mutu pendidikannya harus lebih ditingkatkan karena masih kurang, dan juga pengelolaan sumber daya alam dan manusia.
4. Politik: Pemimpn yang jujur, bertanggung jawab atas tugasnya, berwibawa dan konsisten, seperti Jokowi.
3. Ekonomi: membuka lapangan pekerjaan dan ekonomi di Indonesia ini masih sangat rendah.
Berikut pertanyaan dan jawaban yang sudah berhasil kami dapatkan.
Pertanyaan yang kami angkat:
Permasalahan di Desa:
-Menurut Anda apakah sarana umum di desa sudah baik?
Lapangan pekerjaan
-Menurut Anda mengapa banyak sekali penduduk Desa yang mencari kerja di Kota?
Ekonomi dan Pendidikan
-Makin banyaknya pengangguran menyebabkan angka kemiskinan semakin tinggi, walaupun banyaknya lapangan pekerjaan tidak sesuai dengan latar pendidikan, menurut Anda bagaimana cara penyelesaiannya? Apakah rata - rata ekonomi di Indonesia sudah bisa dibilang baik?
Politik
-Apa yang diharapkan masyarakat untuk pemimpin Indonesia kedepannya? Siapa dari sekian banyak sosok capres yang termasuk dalam kriteria tersebut?
Jawaban
Nama: Adika
Umur: 22 tahun
Pekerjaan: mahasiswa
1. Desa: Sarananya belum cukup baik, masih banyak jalanan di Desa yang rusak, transportasi juga masih banyak yang belum memadai, tempat - tempatnya juga masih kurang bersih.
2. Lapangan pekerjaan: Karena lapangan kerja di Kota lebih banyak dan juga gajinya lebih besar daripada di Desa.
3. Ekonomi: Ekonominya belum baik, karena masih banyak kesenjangan sosial. kalau masalah penyelesaiannya mungkin dengan cara lebih memperbanyak lapangan pekerjaan dan juga kemiskinan lebih banyak diberantas lagi.
4. Politik: Pemimpin yang lebih jujur dan tegas. Sosok yang ada dalam kriteria tersebut menurut saya Prabowo.

Nama: Rian
Umur: 22 tahun
Pekerjaan: Mahasiswa
Menurut Rian,
1. Desa: Tergantung wilayahnya ya, tetapi rata - rata di Indonesia semua sarananya belum memadai.
2. Lapangan pekerjaan: Biaya dan gaji yang tinggi, serta lapangan pekerjaan di Desa masih kurang.
3. Ekonomi: mutu pendidikannya harus lebih ditingkatkan karena masih kurang, dan juga pengelolaan sumber daya alam dan manusia.
4. Politik: Pemimpn yang jujur, bertanggung jawab atas tugasnya, berwibawa dan konsisten, seperti Jokowi.
Umur: 31 tahun
Pekerjaan: pedagang
Menurut Amar,
1. Desa: sarana umum pada desa belum memadai, masih banyak tempat - tempat yang rusak seperti tembok - tembok yang kotor, transportasinya juga kurang memadai.
2. Lapangan pekerjaan: kurangnya lapangan pekerjaan dan karena gajinya di Kota lebih besar.
3. Ekonomi: membuka lapangan pekerjaan dan ekonomi di Indonesia ini masih sangat rendah.
4. Politik: pemimpin yang tegas dan berani, yaitu Prabowo. karena prabowo latar belakangnya adalah militer.
Sumber wawancara: Adika (22th), Rian (22th) dan Amar (31th)
Lokasi wawancara: kampus Bina Nusantara Anggrek
wawancara dilakukan pada tanggal21/4/2014, pukul: 09.30 WIB
Sabtu, 12 April 2014
Interaksi Sosial
Sebagai makhluk individual manusia mempunyai dorongan atau motif untuk
mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri, sedangkan sebagai makhluk
sosial manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang
lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan atau
motif sosial pada manusia, maka manusia akan mencari orang lain untuk
mengadakan hubungan atau untuk mengadakan interaksi. Dengan demikian
maka akan terjadilah interaksi antara manusia satu dengan manusia yang
lain.
Pengertian interaksi sosial
Interaksi sosial adalah hubungan antar individu satu dengan individu lainnya. Individu satu dapat mempengaruhi yang lain begitu juga sebaliknya. (definisi secara psikologi sosial). Pada kenyataannya interaksi yang terjadi sesungguhnya tidak sesederhana kelihatannya melainkan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Interaksi terjadi karena ditentukan oleh banyak faktor termasuk manusia lain yang ada di sekitar yang memiliki juga perilaku spesifik.
Di dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas, yaitu bahwa individu dapat melebur diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.
Faktor-faktor dasar penyebab interaksi manusia
a. Faktor imitasi, imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain.
Menurut Tarde faktor imitasi ini merupakan satu-satunya faktor yang mendasari atau melandasi interaksi sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Gerungan (1966:36). Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap menerima dan mengagumi terhadap apa yang diimitasi. Untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologis lain yang berperan. Dengan kata lain imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalu orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap menerima terhadap apa yang diimitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu, karena itu imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya. Contoh dari imitasi adalah bahasa; anak belajar berbahasa melalui peniruan terhadap orang lain selain itu mode-mode yang melanda masyarakat berkembang karena faktor imitasi.
b. Faktor sugesti, adalah pengaruh psikis yang diterima tanpa adanya kritik
Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Karena itu segesti dapat dibedakan (1) auto sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) hetero sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja terapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat. Contoh untuk hetero sugesti adalah misal dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan.
Imitasi dan sugesti peranannya dalam interaksi hampir sama besarnya, namun berbeda. Dalam imitasi, orang yang mengimitasi keadaannya aktif sebaliknya dengan yang diimitasi dalam keadaan pasif. Sedangkan dalam sugesti orang dengan sengaja dan aktif memberikan pandangan, norma dan sebagainya agar orang lain menerima.
Terjadinya proses sugesti mengikuti dalil sebagai berikut :
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila daya kritisnya dihambat. Orang yang kemampuan berpikirnya kurang atau kurang kritis akan mudah dipengaruhi. Daya kritis tersebut akan terhambat bila orang terkena stimulus yang bersifat emosional. Atau dalam keadaan fisik dan jiwa yang lelah. Misal orang yang telah berjam-jam rapat, ia sudah lelah baik fisik maupun psikologis , adanya keenganan untuk berfikir secara berat, sehingga biasanya dalam keadaan yang demikian orang akan mudah menerima pendapat, pandangan dari pihak lain, atau dengan kata lain orang yang bersangkutan akan mudah menerima sugesti dari pihak lain.
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila kemampuan berpikirnya terpecah belah (dissosiasi). Orang mengalami dissosiasi bila orang itu dalam keadaan kebingungan sehingga mudah menerima pengaruh orang lain. Secara psikologis orang yang dalam keadaan bingung berusaha mencari penyelesaian karena jiwanya tidak tenteram sehingga mudah dipengaruhi oleh pihak lain.
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila materinya mendapat dukungan orang banyak (sugesti mayoritas). Dalam dalil ini orang akan mudah menrima pandangan, nporma, pendapat dan sebagainya bila hal tersebut telah mendapatkan dukungan mayoritas.
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila yang memberikan materi adalah orang yang memiliki otoritas. Walau materi yang diberikan sama tetapi kalau yang memberikan berbeda maka akan terdapat pula perbedaan dalam penerimaan. Orang yang memiliki otoritas akan cenderung mudah diterima karena tingkat kepercayaan yang tinggi
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila pada orang yang bersangkutan telah ada pendapat yang mendahului yang searah. Bila dalam diri orang ada pendapat yang telah mendahului dan searah dengan yang disugestikan maka umumnya orang akan mudah menerima pendapat tersebut
c. Faktor identifikasii, adalah dorongan untuk menjadi identik (sama ) dengan orang lain. . Identifikasi adalah suatu istilah yang dikemukakan oleh Freud, seorang tokoh dalam psikologi dalam, khususnya dalam psikoanalisis. Contoh anak-anak belajar norma-norma sosial dari hasil identifikasinya terhadap orang tua mereka. Di dalam identifikasi anak akan mengabil oper sikap-sikap ataupun norma-norma dari orang tuanya yang dijadikan tempat identifikasi itu. Dalam proses identifikasi ini seluruh norma-norma, cita-cita, sikap dan sebagainyadari orang tua sedapat mungkin dijadikan norma-norma, sikap-sikap dan sebagainya itu dari anak sendiri, dan anak menggunakan hal tersebut dalam perilaku sehari-hari.
d. Faktor Simpati, merupakan perasaan tertarik kepada orang lain. Oleh karena merupakan perasaan maka timbulnya atas dasar emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik pada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya tertarik sering tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Lawan dari simpati adalah antipati yaitu merupakan penolakan atau bersifat negatif. Sedangkan empati adalah kecenderungan untuk ikut merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain (feeling with another person).
Teori-teori hubungan interpersonal
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
a. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
b. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
c. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
d. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagi suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
Sumber: https://www.google.com/search?q=artikel+interaksi+sosial&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-GB:official&client=firefox-a&channel=fflb#channel=fflb&q=artikel+interaksi+sosial&rls=org.mozilla:en-GB:official
Tanggal diunduh: 12 april 2014
Diunduh pukul: 16:32
Pengertian interaksi sosial
Interaksi sosial adalah hubungan antar individu satu dengan individu lainnya. Individu satu dapat mempengaruhi yang lain begitu juga sebaliknya. (definisi secara psikologi sosial). Pada kenyataannya interaksi yang terjadi sesungguhnya tidak sesederhana kelihatannya melainkan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Interaksi terjadi karena ditentukan oleh banyak faktor termasuk manusia lain yang ada di sekitar yang memiliki juga perilaku spesifik.
Di dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas, yaitu bahwa individu dapat melebur diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.
Faktor-faktor dasar penyebab interaksi manusia
a. Faktor imitasi, imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain.
Menurut Tarde faktor imitasi ini merupakan satu-satunya faktor yang mendasari atau melandasi interaksi sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Gerungan (1966:36). Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap menerima dan mengagumi terhadap apa yang diimitasi. Untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologis lain yang berperan. Dengan kata lain imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalu orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap menerima terhadap apa yang diimitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu, karena itu imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya. Contoh dari imitasi adalah bahasa; anak belajar berbahasa melalui peniruan terhadap orang lain selain itu mode-mode yang melanda masyarakat berkembang karena faktor imitasi.
b. Faktor sugesti, adalah pengaruh psikis yang diterima tanpa adanya kritik
Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Karena itu segesti dapat dibedakan (1) auto sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) hetero sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja terapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat. Contoh untuk hetero sugesti adalah misal dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan.
Imitasi dan sugesti peranannya dalam interaksi hampir sama besarnya, namun berbeda. Dalam imitasi, orang yang mengimitasi keadaannya aktif sebaliknya dengan yang diimitasi dalam keadaan pasif. Sedangkan dalam sugesti orang dengan sengaja dan aktif memberikan pandangan, norma dan sebagainya agar orang lain menerima.
Terjadinya proses sugesti mengikuti dalil sebagai berikut :
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila daya kritisnya dihambat. Orang yang kemampuan berpikirnya kurang atau kurang kritis akan mudah dipengaruhi. Daya kritis tersebut akan terhambat bila orang terkena stimulus yang bersifat emosional. Atau dalam keadaan fisik dan jiwa yang lelah. Misal orang yang telah berjam-jam rapat, ia sudah lelah baik fisik maupun psikologis , adanya keenganan untuk berfikir secara berat, sehingga biasanya dalam keadaan yang demikian orang akan mudah menerima pendapat, pandangan dari pihak lain, atau dengan kata lain orang yang bersangkutan akan mudah menerima sugesti dari pihak lain.
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila kemampuan berpikirnya terpecah belah (dissosiasi). Orang mengalami dissosiasi bila orang itu dalam keadaan kebingungan sehingga mudah menerima pengaruh orang lain. Secara psikologis orang yang dalam keadaan bingung berusaha mencari penyelesaian karena jiwanya tidak tenteram sehingga mudah dipengaruhi oleh pihak lain.
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila materinya mendapat dukungan orang banyak (sugesti mayoritas). Dalam dalil ini orang akan mudah menrima pandangan, nporma, pendapat dan sebagainya bila hal tersebut telah mendapatkan dukungan mayoritas.
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila yang memberikan materi adalah orang yang memiliki otoritas. Walau materi yang diberikan sama tetapi kalau yang memberikan berbeda maka akan terdapat pula perbedaan dalam penerimaan. Orang yang memiliki otoritas akan cenderung mudah diterima karena tingkat kepercayaan yang tinggi
• Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila pada orang yang bersangkutan telah ada pendapat yang mendahului yang searah. Bila dalam diri orang ada pendapat yang telah mendahului dan searah dengan yang disugestikan maka umumnya orang akan mudah menerima pendapat tersebut
c. Faktor identifikasii, adalah dorongan untuk menjadi identik (sama ) dengan orang lain. . Identifikasi adalah suatu istilah yang dikemukakan oleh Freud, seorang tokoh dalam psikologi dalam, khususnya dalam psikoanalisis. Contoh anak-anak belajar norma-norma sosial dari hasil identifikasinya terhadap orang tua mereka. Di dalam identifikasi anak akan mengabil oper sikap-sikap ataupun norma-norma dari orang tuanya yang dijadikan tempat identifikasi itu. Dalam proses identifikasi ini seluruh norma-norma, cita-cita, sikap dan sebagainyadari orang tua sedapat mungkin dijadikan norma-norma, sikap-sikap dan sebagainya itu dari anak sendiri, dan anak menggunakan hal tersebut dalam perilaku sehari-hari.
d. Faktor Simpati, merupakan perasaan tertarik kepada orang lain. Oleh karena merupakan perasaan maka timbulnya atas dasar emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik pada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya tertarik sering tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Lawan dari simpati adalah antipati yaitu merupakan penolakan atau bersifat negatif. Sedangkan empati adalah kecenderungan untuk ikut merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain (feeling with another person).
Teori-teori hubungan interpersonal
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
a. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
b. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
c. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
d. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagi suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
Sumber: https://www.google.com/search?q=artikel+interaksi+sosial&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-GB:official&client=firefox-a&channel=fflb#channel=fflb&q=artikel+interaksi+sosial&rls=org.mozilla:en-GB:official
Tanggal diunduh: 12 april 2014
Diunduh pukul: 16:32
Pengertian Filsafat Sejarah
Awal perkembangan filsafat, filsafat
meliputi seluruh jenis ilmu pengetahuan. Pada masa ini pengetahuan belum
terpecah-pecah dan terspesialisasi.
Namun pada masa Renaissannce abad ke 17 dan sesudahnya, ilmu pengetahuan
mengalami perkembangan yang luar biasa sehingga memisahkan diri dari filsafat.
Setelah filsafat pecah menjadi berbagai disiplin ilmu, aktivitas filsafat tidak
mati, tetap hidup dengan corak baru sebagai ilmu istimewa yang mencoba
memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh jangkauan ilmu. Filsafat kemdian
memiliki cabang-cabangnya.
De Vos, dalam E. N. S. I. E (Eerste Nederlandse Systematich Ingeriche
Encyclopaedie), menggolongkan cabang-cabang filsafat sebagai berikut:
a.
Metafisika
b.
Logika
c.
Ajaran tentang ilmu pengetahuan
d.
Filsafat alam
e.
Filsafat kebudayaan
f.
Filsafat sejarah
g.
Etika
h.
Estetika
i.
Antropologi[1]
Sementara itu, Jappers
dalam bukunya yang berjudul Vom Ursprung un Ziel der Geschichte (1949) yaitu
tentang asal dan tujuan sejarah, salah satu tugas bagi sejarah filsafat adalah
mencari struktur sejarah sedunia sebagai sejarah keseluruhan. Jaspers membagi
sejarah ke dalam 4 periode:
a.
Periode pertama merupakan zaman prahistoris yang tidak
meninggalkan jejak tertulis. Pada masa ini bahasa-bahasa berkembang, alat-alat
ditemukan, api mulai digunakan. Zaman ini meletakkan dasar bagi seluruh sejarah
yang akan datang. Disini manusia mengatasi keadaan biologis belaka dan menjadi
manusia dalam rti sungguh-sungguh.
b.
Tahun 5000-3000SM, timbulnya kebudayaan-kebudayaan kuno
yang besar di Mesir, Mesopotamia, di tepi sungai Indus dan kemudian di tepi
sungai Indus dan tepi sungai Hoangho.
c.
Tahun 800-200SM, peletak dasar rohani dan intelektual
bagi umat manusia. Seperti di Tiongkok, India, Parsi, Palestina, dan Yunani.
d.
Sejak waktu itu berlangsung sejarah baru yang menyangkut
seluruh dunia, yaitu timbulnya jaman ilmiah teknis. Jaman itu sudah
dipersiapkan di Eropa sejak akhir Abad Pertengahan, didasari abad ke 17 berkembang lebih luas pada akhir abad ke 18
dan mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Periode ketiga memainkan peranan sentral karena dianggap
pusat seluruh sejarah. Zaman antara tahun 800-200 SM luar biasa suburnya. Berbagai
ciptaan rohani yang masih memupuk hidup intelektual dan religius hingga saat
ini. Dalam zaman poros itu pula lahirlah agama-agama besar.
Menurut
Al Khudairi, filsafat sejarah adalah
tinjauan terhadap peristiwa-peristiwa historis secara filosofis untuk
mengetahui faktor-faktor essensial yang mengendalikan perjalanan
peristiwa-peristiwa istoris itu, untuk kemudian mengikhtisarkan hukum-hukum
umum yang tetap, yang mengarahkan perkembangan berbagai bangsa dan negara dalam
berbagai masa dan generasi.[2]
Sementara itu, F. Laurent mengatakan bahwa sejarah tidak mungkin hanya
merupakan seperangkat rangkaian peristiwa yang tanpa tujuan atau makna. Dimana
sejarah tunduk sepenuhnya pada kehendak Tuhan seperti peristiwa alam yang
tunduk pada hukum hukum yang mengendalikannya.
W. H. Walsh dalam
bukunya An Introduction to Phillosophy of
History menyatakan hendaknya memperhatikan definisi sejarah dahulu sebelum
mendefnisikan filsafatsejarah. Sejarah kadang diartikan sebagai peristiwa yang
terjadi pada masa lalu dan penuturan peristiwa masa lalu itu. pengertian
tersebut berpengaruh terhadap bidang kajian filsafat sejarah. 1. Merupakan
suatu studi dalam bentuk kajian sejarah tradisional, yaitu perjalalan sejarah
dan perkembangannya dalam pengertian yang aktual. 2. Suatu studi mengenai proses
pemikiran filosofis tentang perjalanan dan perkembangan sejarah itu sendiri. Dalam
hal ini filsafat sejarah dapat dimaknai sebagai studi mengenai jalannya
peristiwa sejarah atau studi terhadap asumsi dan metode para sejarawan.[3]
Filsafat
sejarah adalah cabang dari filsafat yang mempelajari tentang prinsip-prinsip
mendasar (hakekat) sejarah sejauh dapat ditangkap oleh akal dan dapat
dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, artinya bersifat rasional-ilmiah.
Filsafat sejarah mempelajari prinsip-prinsip dasar keilmuan sejarah. Filsafat
sejarah membicarakan “ada” sebagai sejarah.[4]
Pertanyaan yang dapat dikemukakan dalam filsafat sejarah adalah struktur
mendasar atau esensi dasar apa yang menyebabkan sejarah (masa lampau) itu
menjadi ada atau hal-hal mendasar apa yang menyebabkan sesuatu itu terjadi atau
berubah. Filsafat sejarah membicarakan hakekat sejarah atau esensi dasar
sejarah.
Hingga
kini masih terjadi perdebatan antara filsafat sejarah dan teori sejarah. Di
Negeri Belanda orang lebih suka kepada istilah filsafat sejarah, sebaiknya di
Jerman lebih menyukai istilah teori sejarah. Tetapi menurut F.R Ankersmit,
penulis buku “Refleksi Tentang Sejarah”, mengatakan bahwa rupanya tak ada satu
cabang ilmu yang dapat dinamakan teori sejarah atau sejarah teoritis.[5]
Sejarah dalam kerangka filosofis
adalah sejarah dalam pengertian filsafat sejarah. Filsafat sejarah mengandung dua
spesialisasi. Pertama, sejarah yang berusaha untuk memastikan suatu tujuan umum
yang mengurus dan menguasai suatu kejadian dan seluruh jalannya sejarah. kedua,
sejarah yang bertujuan untuk menguji dan menghargai metode ilmu sejarah dan kepastian
dari kesimpulan-kesimpulannya.
Disarikan dari sumber
sumber:
Pada tanggal 4 April 2014, http://bondiangmaharani.blogspot.com/2013/03/pengertian-filsafat- sejarah.html
Arti Sebuah Keluarga
Keluarga
adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan
darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam
suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya
masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu
kebudayaan.(Menurut Salvicion dan Ara Celis). Dari pengertian tersebut
dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah :
- Unit terkecil dari masyarakat
- Terdiri atas 2 orang atau lebih
- Adanya ikatan perkawinan atau pertalian darah
- Hidup dalam satu rumah tangga
- Di bawah asuhan seseorang kepala rumah tangga
- Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga
- Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing
- Diciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan
Keluarga merupakan cikal bakal wajah peradaban. Baik buruknya masyarakat bisa dinilai dari profil-profil keluarga didalamnya. Belakangan ini kita dapat mengamati apa yang membuat sebuah keluarga itu retak. Kalo dipikir-pikir, keluarga itu kan ikatan yang sangat kuat. Orang-orang didalamnya dipertemukan oleh Tuhan bukan tanpa sebab, sudah ada pertimbangan menurut ukuran-Nya. Komposisinya tidak bisa digantikan oleh yang lain. Pernikahan yang menjadi awal sebuah keluarga pun selalu direalisasikan dalam perhelatan yang agung nan meriah. Akan tetapi oh akan tetapi…banyak sekali terdengar cerita perceraian atau keluarga yang ‘berantakan’ tapi belum masuk tahap perpisahan.
Hal ini disebabkan karena banyak manusia yang tidak memahami arti sebuah keluarga. Mereka hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan hidup duniawi. Slogan-slogan mereka adalah memuaskan hawa nafsunya, “Yang Penting Puas”. Prinsip dan misi mereka adalah bagaimana mereka dapat menikmati kehidupan, seakan-akan mereka tumbuh dari biji-bijian, kemudian menguning dan mati tanpa ada kebangkitan, perhitungan dan hisab.
Arti sebuah keluarga adalah saling memiliki, saling percaya, saling menghormati, saling melindungi dan saling berbagi rasa, saling menjaga kehormatan serta saling menjaga rahasia diantara Ayah, Ibu, Anak, kakak dan adik.
Berkaitan dengan upaya membangun keluarga bahagia, tiga hal yang penting berhubungan dengan itu adalah bagaimana merenda keluarga bahagia, bagaimana menjadi wanita idaman dalam keluarga, dan bagaimana menjadi orang tua yang cerdas dan efektif. Untuk mampu merenda keluarga bahagia, perlu berbagi peran dengan adil antara suami dan istri, berusaha mengatasi krisis keluarga dan mengukuhkan integritas keluarga. Sesungguhnya kunci untuk para pasangan merasa bahagia adalah mereka puas dengan rencana mereka tentang pekerjaan dan tugas-tugas rumah tangga, dan merasa bahwa kontribusi tiap pasangan adalah pantas. Oleh karena itu, pekerjaan keluarga dan tugas rumah tangga tidak dapat dibagi rata antara suami dan istri, tetapi bidang kerja itu dirasakan pantas.
Pepatah Tiongkok lama mengatakan keluarga adalah mutiara. Begitu berharganya nilai sebuah keluarga sehingga dia disamakan dengan mutiara. Karena dari sebuah keluargalah kita lahir, tumbuh dan dewasa. Sehingga begitu dalam makna keluarga yang harus kita patrikan didalam hati kita kelak dan selamanya. Kadangkala kita dengan alasan kerja mengabaikan keluarga kita, suami, istri, orang tua ataupun anak-anak kita. Namun kita lupa bahwa sesungguh kebahagiaan sejati bukan hanya diukur dari materi namun dari kehangatan sejati yang kita peroleh dari saling berbagi dalam kebersamaan sebuah keluarga. Kita boleh bersosialisasi dengan orang diluar keluarga kita namun alangkah bijaknya jika kita juga bisa meluangkan sedikit waktu kita yang berharga untuk memberikan curah kasih pada keluarga kita.
Sumber: http://sulbar.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=124&ContentTypeId=0x01003DCABABC04B7084595DA364423DE7897
Tanggal penulisan: 12 April 2014
Di unduh pukul: 16:22
- Unit terkecil dari masyarakat
- Terdiri atas 2 orang atau lebih
- Adanya ikatan perkawinan atau pertalian darah
- Hidup dalam satu rumah tangga
- Di bawah asuhan seseorang kepala rumah tangga
- Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga
- Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing
- Diciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan
Keluarga merupakan cikal bakal wajah peradaban. Baik buruknya masyarakat bisa dinilai dari profil-profil keluarga didalamnya. Belakangan ini kita dapat mengamati apa yang membuat sebuah keluarga itu retak. Kalo dipikir-pikir, keluarga itu kan ikatan yang sangat kuat. Orang-orang didalamnya dipertemukan oleh Tuhan bukan tanpa sebab, sudah ada pertimbangan menurut ukuran-Nya. Komposisinya tidak bisa digantikan oleh yang lain. Pernikahan yang menjadi awal sebuah keluarga pun selalu direalisasikan dalam perhelatan yang agung nan meriah. Akan tetapi oh akan tetapi…banyak sekali terdengar cerita perceraian atau keluarga yang ‘berantakan’ tapi belum masuk tahap perpisahan.
Hal ini disebabkan karena banyak manusia yang tidak memahami arti sebuah keluarga. Mereka hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan hidup duniawi. Slogan-slogan mereka adalah memuaskan hawa nafsunya, “Yang Penting Puas”. Prinsip dan misi mereka adalah bagaimana mereka dapat menikmati kehidupan, seakan-akan mereka tumbuh dari biji-bijian, kemudian menguning dan mati tanpa ada kebangkitan, perhitungan dan hisab.
Arti sebuah keluarga adalah saling memiliki, saling percaya, saling menghormati, saling melindungi dan saling berbagi rasa, saling menjaga kehormatan serta saling menjaga rahasia diantara Ayah, Ibu, Anak, kakak dan adik.
Berkaitan dengan upaya membangun keluarga bahagia, tiga hal yang penting berhubungan dengan itu adalah bagaimana merenda keluarga bahagia, bagaimana menjadi wanita idaman dalam keluarga, dan bagaimana menjadi orang tua yang cerdas dan efektif. Untuk mampu merenda keluarga bahagia, perlu berbagi peran dengan adil antara suami dan istri, berusaha mengatasi krisis keluarga dan mengukuhkan integritas keluarga. Sesungguhnya kunci untuk para pasangan merasa bahagia adalah mereka puas dengan rencana mereka tentang pekerjaan dan tugas-tugas rumah tangga, dan merasa bahwa kontribusi tiap pasangan adalah pantas. Oleh karena itu, pekerjaan keluarga dan tugas rumah tangga tidak dapat dibagi rata antara suami dan istri, tetapi bidang kerja itu dirasakan pantas.
Pepatah Tiongkok lama mengatakan keluarga adalah mutiara. Begitu berharganya nilai sebuah keluarga sehingga dia disamakan dengan mutiara. Karena dari sebuah keluargalah kita lahir, tumbuh dan dewasa. Sehingga begitu dalam makna keluarga yang harus kita patrikan didalam hati kita kelak dan selamanya. Kadangkala kita dengan alasan kerja mengabaikan keluarga kita, suami, istri, orang tua ataupun anak-anak kita. Namun kita lupa bahwa sesungguh kebahagiaan sejati bukan hanya diukur dari materi namun dari kehangatan sejati yang kita peroleh dari saling berbagi dalam kebersamaan sebuah keluarga. Kita boleh bersosialisasi dengan orang diluar keluarga kita namun alangkah bijaknya jika kita juga bisa meluangkan sedikit waktu kita yang berharga untuk memberikan curah kasih pada keluarga kita.
Sumber: http://sulbar.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=124&ContentTypeId=0x01003DCABABC04B7084595DA364423DE7897
Tanggal penulisan: 12 April 2014
Di unduh pukul: 16:22
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)

